TUGAS UJIAN
TENGAH SEMESTER
Mata Kuliah
Tasawuf dan Tarekat II
SEMESTER
III
PRODI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT
AGAMA ISLAM LATIFAH MUBAROKIYYAH
2016
Fitri
Masturoh
1621.011
Apa itu tasawuf dan Tarekat ?
Menurutku,
ilmu tasawuf adalah ilmu mensucikan jiwa. Awalnya masih memandang tasawuf
sebagai sifat zuhud , meninggalkan sifat-sifat keduniawian , focus ibadah
kepada Allah , focus dengan hal-hal yang berkaitan dengan akhirat saja. Istilah
tasawuf hal yang sebelumnya pernah aku mendengarnya, cenderung kepada komunitas
orang-orang “ Sufi ”, yang lebih bersifat fanatisme, lebih apik akan sesuatu
yang mengandung islam. Setelah memasuki dunia perkuliahan, perlahan-lahan aku
lebih mengenal apa itu Tasawuf. Lebih berkenaan dengan ilmu mendekatkan diri
kepada Allah SWT, membersihkan jasmani dan rohani, dengan berbagai rutinitas
ibadah, yang didwamkan seperti halnya dzikir, khotaman, manaqiban dll. Jadi aku
mendefinisikan bahwasannya ilmu Tasawuf adalah ilmu untuk mensucikan jasmani
dan rohani melalui proses ibadah-ibadah yang telah ditentukan dengan maksud
mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menggapai ridho-Nya.
Mengenai
Tarekat, awalnya aku mengartikan bahwasannya Tarekat itu cabang dari Tasawuf, anaknya
Tasawuf. Dan aku mulai sering mendengar kata TQN. Tarekat Qodiriyah
Naqsabandiyah. Namun ternyata Tarekat itu suatu metodologinya, jalannya untuk
menjadi seorang Sufi/bertasawuf. Berbicara mengenai jalan/cara aku berfikir berarti masih banyak jalan/cara
untuk bertasawuf, lebih dekat dengan sang Kholiq, yang rata-rata aku menilai
orang-orang tak begitu mencondongkan jalan mana , jalan apa yang dia tempuh
untuk dekat dengan Tuhannya, hanya mengikuti alur yang dia anggap benar, atau
hanya taqlid , contohnya aku sendiri ketika itu. Mengenai Tarekat Qodiriyyah Naqsabandiyah,
aku menganggapnya salah satu tarekat yang dipelopori oleh Syekh Abdul Qodir
Jaelani Qoddasallahu sirohu, Syekh yang masih segaris dengan keturunan Ali bin
Abi Thalib, karomallahu wajhah,,,,yaitu dua tarekat qodiriyyah dan
Naqsabandiyyah. Jadi, Tasawuf itu ilmunya sedangkan Tarekat itu jalannya.
Bagaimana tanggapanmu mengenai
Tasawuf dan Tarekat ?
dan apa pengalamanmu dalam Tasawuf
dan Tarekat ?
Mengenai tasawuf dan tarekat, semenjak aku
sedikit-sedikit mengkaji ilmu tersebut, aku mulai faham kaitan tasawuf dan
tarekat. Aku mempelajarinya sejak pertama masuk. Dikenalkan lebih tepatnya,
karena sama sekali blasss aku gak tahu menahu
perihal tasawuf dan tarekat. Aku slelalu penasaran dengan hal yang
berkaitan dengan ibadah, apalagi hal-hal yang belum aku ketahui sebelumnya,
walaupun masih mengkaji dari sisi ilmunya, belum mencapai pengalaman apalagi
pengamalan. Sebelum memasuki bangku kuliah, hanya 0,5 % yang mendorongku untuk
mengkaji lebih dalam dan mengamalkan TQN. Entah karena ketidak tahuan, atau
mungkin tidak sedikit yang kontra mengenai TQN, karena disisi lain ada saja
percikan kata-kata yang tak searah akan Tarekat Qodiriyyah Naqsabandiyah, yang
menjadikanku masih berpetualang hati dan fiqiran mengenai ilmu tasawuf dan
tarekat tersebut. Tapi setelah aku pehatikan , banyak ibadah-ibadah terutama
hal-ihwah ibadah sunnah, sebenarnya banyak yang sudah terpraktekkan di
kehidupanku, dilingkunganku, banyak bacaan-bacaan , dzikir-dzikir yang sering
diamalkan di lingkunganku, bisa diambil kesimpulan mungkin aku mampu
bertasawuf, namun belum mencapai tahap TQN dalam artian belum mempunyai metode
khusus (tarekat).Dan dalam tasawufnya pun masih Tasawuf ilmi belum amali.
Disamping lingkungan ku yang sama sekali tak ber Tarekat qodiriyyah
Naqsabandiyyah, akupun masih tetap dalam lingkup pencarian jati diriku dalam
bertasawuf dan bertarekat. Entah karena ilmuku yang masih enol koma persen,
sehingga aku belum mencoba mengamalkan contohnya dzikir-dzikir yang bilangannya
sudah ditentukan. Aku hanya berdzikir seperti biasanya, namun bukan pula
berarti aku menolak dzikir khofi dan jahr yang telah aku pelajari, mungkin
tahapan caranya yang belum dikatakan sama nan seirama.
Dilingkunganku ada satu orang yang
bertarekat qodiiriyah naqsabandiyyah,aku sering mempehatikannya bahkan tidak
sedikit ilmu yang aku dapatkan dari
dirinya. Selain sosoknya yang berkarisma nan berwibawa, beliau pula sosok yang
sangat apik akan ibadahnya. Terutama perihal Shalat, dzikir, bahkan
pengaplikasian dalam kehidupan sehari-seharipun lengket dan aku sangat salut
padanya. Disisi lain aku pula sering mempehatikan kehidupan-kehidupan di
lingkungan Suryalaya, kekompakkan,
kesemangatan beribadah, ataupun kegiatan-kegiatan yang membuatku sampe
geleng-geleng kepala karena satu sisi aku mengarah pada lingkungan lain,
sekitarkulah bisa dikatakan. Lingkungan pesantren yang menjalar bagai akar
panjang. Aku mengambil titik pokok /sampel yang mudah yaitu lantunan-lantunan
Bani Hasyim yang berkumandang dari berbagai arah. Tidak hanya area pesantren saja.
Artinya kekuatan TQN benar-benar sudah menjalar. Subhanallah…
Seorang dosen berkata padaku, pada
mahasiswanya lah, ketika kita ingin mengenal Allah, ingin lebih dekat dengan
Allah kita mesti punya peantara,supaya lebih mudah dan cepat bisa dikatakan
guru lah, akupun mulai mengenal kata “Murid” dan “Mursyid”. Aku, orang
awwam,tapi entahlah aku punya tekad ingin mendapat pengetahuan dan setruman
langsung dari seorang Mursyid . Apa sih ? Bagaimana sih ? Namun mungkin sang
waktu belum saja berpihak padaku. Intinya aku masih dalam pencarian, pencarian
keyakinan yang masih belum panceg 100 % ber TQN. Dan biasanya sosok diriku,
ketika sudah mengenal sosok inspiratif, aku mulai menanan niat awal tergugah
ingin sepertinya. Seperti halnya sekarang ini aku sedang haus akan beberapa
maqam dalam Tasawuf yaitu “Mahabbah”. Pasca persentasi dan diskusi mengenai
Mahabbah aku semakin haus akan hal tersebut , mencari seluk beluknya, terlebih
pada tokoh sufisme mahabbah yaitu Rabiah Al-Adawiah. Sangat menginspirasi diriku
mengenai Cinta kepada Sang Kholiq yang benar-benar sudah larut. Sudah merasakan
lezatnya iman. Karena Cinta kepada-Nya itu bisa dikatakan Syarat iman. Karena
aku tahu, karena aku mengkaji akupun seolah berusaha ingin menggapai
mahabbatullah. Salah satu kajian ilmu Tasawuf. Jadi, bisa dikatakan karena aku
belum mumpuni / masih awwam sangat mengenai keilmuan tasawuf nan tarekat hingga
akupun belum benar-benar mengamalkan hal tersebut. Namun
setidaknya aku memiliki pengalaman di talqin, dzikir, khotaman, manaqiban dan
kegiatan – kegiatan lain/ hal-hal yang ada di TQN pada khususnya.
Tasikmalaya, 20 November 2016
![]() |
