Sabtu, 19 November 2016

Tasawuf dan Tarekat

TUGAS UJIAN TENGAH SEMESTER
Mata Kuliah Tasawuf dan Tarekat II
SEMESTER III
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM LATIFAH MUBAROKIYYAH
2016
Fitri Masturoh
1621.011

Apa itu tasawuf dan Tarekat ?
      Menurutku, ilmu tasawuf adalah ilmu mensucikan jiwa. Awalnya masih memandang tasawuf sebagai sifat zuhud , meninggalkan sifat-sifat keduniawian , focus ibadah kepada Allah , focus dengan hal-hal yang berkaitan dengan akhirat saja. Istilah tasawuf hal yang sebelumnya pernah aku mendengarnya, cenderung kepada komunitas orang-orang “ Sufi ”, yang lebih bersifat fanatisme, lebih apik akan sesuatu yang mengandung islam. Setelah memasuki dunia perkuliahan, perlahan-lahan aku lebih mengenal apa itu Tasawuf. Lebih berkenaan dengan ilmu mendekatkan diri kepada Allah SWT, membersihkan jasmani dan rohani, dengan berbagai rutinitas ibadah, yang didwamkan seperti halnya dzikir, khotaman, manaqiban dll. Jadi aku mendefinisikan bahwasannya ilmu Tasawuf adalah ilmu untuk mensucikan jasmani dan rohani melalui proses ibadah-ibadah yang telah ditentukan dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menggapai ridho-Nya.
      Mengenai Tarekat, awalnya aku mengartikan bahwasannya Tarekat itu cabang dari Tasawuf, anaknya Tasawuf. Dan aku mulai sering mendengar kata TQN. Tarekat Qodiriyah Naqsabandiyah. Namun ternyata Tarekat itu suatu metodologinya, jalannya untuk menjadi seorang Sufi/bertasawuf. Berbicara mengenai jalan/cara aku  berfikir berarti masih banyak jalan/cara untuk bertasawuf, lebih dekat dengan sang Kholiq, yang rata-rata aku menilai orang-orang tak begitu mencondongkan jalan mana , jalan apa yang dia tempuh untuk dekat dengan Tuhannya, hanya mengikuti alur yang dia anggap benar, atau hanya taqlid , contohnya aku sendiri ketika itu. Mengenai Tarekat Qodiriyyah Naqsabandiyah, aku menganggapnya salah satu tarekat yang dipelopori oleh Syekh Abdul Qodir Jaelani Qoddasallahu sirohu, Syekh yang masih segaris dengan keturunan Ali bin Abi Thalib, karomallahu wajhah,,,,yaitu dua tarekat qodiriyyah dan Naqsabandiyyah. Jadi, Tasawuf itu ilmunya sedangkan Tarekat itu jalannya.
Bagaimana tanggapanmu mengenai Tasawuf dan Tarekat ?
dan apa pengalamanmu dalam Tasawuf dan Tarekat ?
      Mengenai tasawuf dan tarekat, semenjak aku sedikit-sedikit mengkaji ilmu tersebut, aku mulai faham kaitan tasawuf dan tarekat. Aku mempelajarinya sejak pertama masuk. Dikenalkan lebih tepatnya, karena sama sekali blasss aku gak tahu menahu  perihal tasawuf dan tarekat. Aku slelalu penasaran dengan hal yang berkaitan dengan ibadah, apalagi hal-hal yang belum aku ketahui sebelumnya, walaupun masih mengkaji dari sisi ilmunya, belum mencapai pengalaman apalagi pengamalan. Sebelum memasuki bangku kuliah, hanya 0,5 % yang mendorongku untuk mengkaji lebih dalam dan mengamalkan TQN. Entah karena ketidak tahuan, atau mungkin tidak sedikit yang kontra mengenai TQN, karena disisi lain ada saja percikan kata-kata yang tak searah akan Tarekat Qodiriyyah Naqsabandiyah, yang menjadikanku masih berpetualang hati dan fiqiran mengenai ilmu tasawuf dan tarekat tersebut. Tapi setelah aku pehatikan , banyak ibadah-ibadah terutama hal-ihwah ibadah sunnah, sebenarnya banyak yang sudah terpraktekkan di kehidupanku, dilingkunganku, banyak bacaan-bacaan , dzikir-dzikir yang sering diamalkan di lingkunganku, bisa diambil kesimpulan mungkin aku mampu bertasawuf, namun belum mencapai tahap TQN dalam artian belum mempunyai metode khusus (tarekat).Dan dalam tasawufnya pun masih Tasawuf ilmi belum amali. Disamping lingkungan ku yang sama sekali tak ber Tarekat qodiriyyah Naqsabandiyyah, akupun masih tetap dalam lingkup pencarian jati diriku dalam bertasawuf dan bertarekat. Entah karena ilmuku yang masih enol koma persen, sehingga aku belum mencoba mengamalkan contohnya dzikir-dzikir yang bilangannya sudah ditentukan. Aku hanya berdzikir seperti biasanya, namun bukan pula berarti aku menolak dzikir khofi dan jahr yang telah aku pelajari, mungkin tahapan caranya yang belum dikatakan sama nan seirama.
      Dilingkunganku ada satu orang yang bertarekat qodiiriyah naqsabandiyyah,aku sering mempehatikannya bahkan tidak sedikit ilmu yang  aku dapatkan dari dirinya. Selain sosoknya yang berkarisma nan berwibawa, beliau pula sosok yang sangat apik akan ibadahnya. Terutama perihal Shalat, dzikir, bahkan pengaplikasian dalam kehidupan sehari-seharipun lengket dan aku sangat salut padanya. Disisi lain aku pula sering mempehatikan kehidupan-kehidupan di lingkungan Suryalaya,  kekompakkan, kesemangatan beribadah, ataupun kegiatan-kegiatan yang membuatku sampe geleng-geleng kepala karena satu sisi aku mengarah pada lingkungan lain, sekitarkulah bisa dikatakan. Lingkungan pesantren yang menjalar bagai akar panjang. Aku mengambil titik pokok /sampel yang mudah yaitu lantunan-lantunan Bani Hasyim yang berkumandang dari berbagai arah. Tidak hanya area pesantren saja. Artinya kekuatan TQN benar-benar sudah menjalar. Subhanallah…
Seorang dosen berkata padaku, pada mahasiswanya lah, ketika kita ingin mengenal Allah, ingin lebih dekat dengan Allah kita mesti punya peantara,supaya lebih mudah dan cepat bisa dikatakan guru lah, akupun mulai mengenal kata “Murid” dan “Mursyid”. Aku, orang awwam,tapi entahlah aku punya tekad ingin mendapat pengetahuan dan setruman langsung dari seorang Mursyid . Apa sih ? Bagaimana sih ? Namun mungkin sang waktu belum saja berpihak padaku. Intinya aku masih dalam pencarian, pencarian keyakinan yang masih belum panceg 100 % ber TQN. Dan biasanya sosok diriku, ketika sudah mengenal sosok inspiratif, aku mulai menanan niat awal tergugah ingin sepertinya. Seperti halnya sekarang ini aku sedang haus akan beberapa maqam dalam Tasawuf yaitu “Mahabbah”. Pasca persentasi dan diskusi mengenai Mahabbah aku semakin haus akan hal tersebut , mencari seluk beluknya, terlebih pada tokoh sufisme mahabbah yaitu Rabiah Al-Adawiah. Sangat menginspirasi diriku mengenai Cinta kepada Sang Kholiq yang benar-benar sudah larut. Sudah merasakan lezatnya iman. Karena Cinta kepada-Nya itu bisa dikatakan Syarat iman. Karena aku tahu, karena aku mengkaji akupun seolah berusaha ingin menggapai mahabbatullah. Salah satu kajian ilmu Tasawuf. Jadi, bisa dikatakan karena aku belum mumpuni / masih awwam sangat mengenai keilmuan tasawuf nan tarekat hingga akupun belum benar-benar mengamalkan hal tersebut. Namun setidaknya aku memiliki pengalaman di talqin, dzikir, khotaman, manaqiban dan kegiatan – kegiatan lain/ hal-hal yang ada di TQN pada khususnya.


Tasikmalaya, 20 November 2016